Tampilkan postingan dengan label hikmah PNS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah PNS. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Desember 2015

Renungan PNS: Jangan Remehkan Mahalnya Kesehatan!

sakit bisa datang kapan saja

Benarlah perkataan Nabi Muhammad SAW, 2 hal yang diabaikan oleh mayoritas manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Sehat adalah keadaan dimana semua komponen jasmani dan rohani kita dalam keadaan fit dan prima, sehingga dapat menjalankan masing-masing fungsinya dengan baik. Dan ketika kesehatan terganggu, apa yang terjadi? Coba kita lihat hal-hal apa saja dalam ritme keseimbangan hidup yang terganggu manakala kita jatuh sakit.

Pertama, hilangnya daya

Saat sakit, energi terkuras untuk membantu antibodi/sistem imun bekerja. Akibatnya, kita jadi tak bertenaga, tak sanggup beraktifitas baik fisik maupun sekedar berpikir agak dalam. Otak juga melemah, tak bisa kita melakukan analisis tajam seperti saat sedang sehat. Jangankan bekerja, melakukan ibadah-ibadah ringan pun terasa sangat berat. Berdo'a dan berdzikir serasa sedang dihujani interogasi. Bergerak salah, diam pun tak berasa tenangnya. Intinya kita jadi sangat tidak produktif.

Kedua, hilangnya nikmat

Apa yang kita sebut-sebut sebagai hobby atau kesukaan sewaktu sehat, maka ketika sakit semua terasa pahit, bahkan mendengar namanya pun serasa ingin muntah. Entah apa itu makanan, minuman, permainan, pekerjaan, dan kesenangan lainnya. Kita jadi kehilangan segala kemampuan untuk menikmati apapun yang enak-enak. Bila orang sakit ditanya apa yang paling diinginkan sekarang, jawabannya pasti "sembuh".

Ketiga, hilangnya kesempatan

Banyak peluang-peluang yang terpaksa kita lewatkan manakala badan jatuh sakit. Jadwal dan tawaran-tarawan penting dan mahal harus dilepas begitu saja. Begitu juga, saat pemilihan umum bisa kehilangan hak suara sehingga tidak bisa memandatkan harapan anda kepada calon yang anda anggap paling amanah. 

Keempat, sakit sangat menyusahkan

Tidak hanya penderita, sakit juga membuat susah orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka harus merawat siang malam, menyiapkan pengobatan berikut biayanya, mengurus tetek bengek administrasinya, dan masih banyak lagi yang harus mereka lakukan. Sementara yang sakit hanya terbaring lunglai tak berdaya.

Namun demikian karena sakit merupakan ujian dari Yang Maha Kuasa, maka ia berfungsi sebagai instrumen yang menetralisir beberapa hal buruk dalam jiwa manusia, antara lain:

Pertama, sakit menghapus kesombongan

Bahwa dalam keadaan sehebat apapun manusia tetaplah manusia, yang dengan sedikit diberi sakit pun, tidak akan lepas dari bantuan orang lain. 

Kedua, sakit meredam gejolak batin

Ketika sakit, pikiran seolah berjalan melambat. Sehingga sangat mudah untuk mencapai frekuensi penenangan jiwa. Saat itu batin terasa lebih mudah untuk melakukan introspeksi dan koreksi kedalam diri. Semakin sakit, semakin merasa lemah, maka semakin kuat frekuensi introspeksi tersebut.

Ketiga, sakit membunuh sifat serakah

Betapapun banyak yang ingin dikuasai entah itu materi, kedudukan, kehormatan, maka ketika sakit semua nampak begitu tak berharga. Hanya satu hal yang terasa begitu kuat untuk diraih, bahkan kalaupun ada yang bisa menukarkannya dengan harta paling mahal pasti akan dilakukan. Sesuatu itu adalah kesembuhan.

Oleh karenanya sangatlah jelas bahwa sehat adalah karunia yang tak terhingga mahalnya.  Tidak cukup hanya dengan proteksi asuransi, mencegah sakit adalah tentang bagaimana menjaga hubungan baik dengan Sang Maha Kuasa dan orang di sekitar kita. Mari kita tanamkan komitmen dalam diri, bahwa kita adalah orang-orang yang tak akan lagi menyia-nyiakan kesehatan dan waktu luang yang dititipkan pada kita.

Senin, 07 Desember 2015

PNS ngapain saja di masjid

kajian dzuhur di sela-sela istirahat PNS

Setelah beraktifitas di meja kerja sekitar 4,5 jam sejak presensi pagi, maka tibalah adzan dzuhur berkumandang. Memang sederhana, cuman panggilan solat saja. Namun lambaian tangan sang mu'adzdzin jauh menerobos ke ruang hati seorang mukmin yang dalam dadanya masih menyala lilin-lilin keimanan. Berangkat apa tidak. Makan dulu apa solat dulu. Atasan atau Sang Pencipta Atasan. Rapat kerja apa rapatkan shaf, dan seterusnya.

Bagi mereka yang memutuskan untuk berangkat, maka rasa berat itu hanya pada langkah pertama saja, yaitu saat badan beranjak dari komputer dan berkas pekerjaan di meja. Selebihnya, pada langkah kedua dan seterusnya, apalagi berbarengan dengan rekan-rekan lain di lift, sama-sama menuju masjid, maka semua saling menguatkan. Tiada penghalang rasanya. Tetapi bagi mereka yang memutuskan untuk menunda, maka beban itu akan semakin terasa berat bahkan hanya menghadapi satu alasan saja: kekhawatiran. Khawatir dipanggil atasan, khawatir makan siang kehabisan, khawatir sepatu tertukar, dan khawatir-khawatir lainnya yang masih berupa persediaan dalam kantong angan-angan.

Di masjid, latihan pengendalian diri dimulai bahkan sejak bertemu dengan teman. Ada orang yang dari mulai keluar ruangan, selama di masjid, sampai kembali ke ruangan tiada yg didapat selain ngobrol sana sini. Begitulah, yang berangkat ke masjidpun belum tentu bisa merasakan manisnya ibadah. Tergantung dari niat dan kampuannya mengkondisikan diri dalam situasi (apatah lagi yang tidak berangkat ke masjid). Ada latihan persatuan, kebersamaan, kekompakan, keharmonisan, dan kepatuhan dalam shalat berjama'ah. Nikmat rasanya begitu salam terakhir shalat, melihat ke belakang ada puluhan shaf melakukan gerakan yang sama, pada posisi yang sama.

Masjid di waktu dzuhur, meski sangat singkat, namun merupakan majelis pembinaan mental yang seharusnya efektif bagi seorang PNS, manakala dimanfaatkan dengan baik. Singkat tapi bermakna adalah lebih baik daripada banyak tapi mubazir. Belum lagi ditambah interaksi dengan beberapa lembar Al Qur'an, membuat hati semakin tenang. Bagi sebagian orang nampaknya hal ini sudah menjadi agenda jasmani dan rohani yang tak boleh luput dalam kehidupan siangnya di kantor.

Saya menyaksikan satu teladan, saat itu beliau masih menjabat eselon IV, waktu ba'da dzuhur tak akan dilewatkan tanpa membawa mushaf kecil Al Qur'an. 4 tahun kemudian, bertemu kembali setelah mutasi dan promosi beliau menjadi eselon III, beliau masih dengan kebiasaan lamanya. Dan sekarang, beliau diamanahi jabatan eselon II, tak ada yang berubah dari dirinya kecuali uban yang kian bertebaran di rambutnya. Sungguh luar biasa bagi saya, sosok teladan birokrat yang tak pernah jauh dari masjid dan Al Qur'an dalam kesederhanaannya menjadi penguat dalam berkontribusi dan berprestasi di meja kerjanya. Beliau adalah Bapak Dwijo Muryono, Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Soekarno-Hatta.